Selasa, 03 Februari 2015

Selalu Ada Kamu



Dulu, aku sering mendengar orang-orang di sekitarku berkata, “Jatuh cintalah di Yogyakarta sekali saja dalam hidupmu yang singkat itu.” Sontak aku menyunggingkan senyum mendengar riuh balasan yang hadir di telingaku menanggapi perkataan tersebut. “Ah, ada-ada saja. Mengapa harus sejauh itu pula jika mau jatuh cinta”, pikirku saat itu.


“Hae.. hae.. apa kabar kamu?”, sapamu di akun Whatsappku siang itu.
“Hae juga. Aku baik. Kamu baik? Kamu pasti sedang merindukanku saat ini?” jawabku sekenanya sambil membayangkan ekspresi wajahmu saat membacanya. Hahahah.

Kau tahu, ingatanku kembali berpacu dengan waktu yang sudah lalu. 2009. Enam tahun yang lalu, saat pertama kalinya aku mengenalmu, di Yogyakarta.  Kau dengan rambut keriting gimbalmu dan kaos oblong; ciri khasmu, ujarmu. 


Tahun berbilang dan sampailah di mana aku ternyata memutuskan untuk menitipkan sebagian harapan-harapanku di bahumu yang sudah cukup banyak memikul beban kehidupan sebenarnya. Seperti itulah, aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada hal-hal yang selalu kau gumamkan di telingaku untuk sekedar menghilangkan tangisku, pun dengan caramu menghadapi kepalaku yang batu.

Lalu kita berikrar untuk saling menjaga.

Aku tau, aku adalah wanita pencemas dan sabarku tidaklah panjang. Ada saja yang salah dimataku mengenai kebiasaanmu; Tentang kau yang lebih sering acuh dan jarang memberi kabar atapun aku yang kelewat cemburu dengan perempuan-perempuan yang pernah hadir untuk kau dekap. Kita berjarak ribuan depa saat itu, Tuan. Tidakkah kau paham?

Ah, "Kita" tak sekuat yang aku dan kau pikirkan. Aku memilih untuk melepaskan dan kau memilih untuk mengiyakan. Kita kembali menjadi dua orang asing yang memilih jalannya sendiri-sendiri.


“Hae.. Semuanya aman kan? Kau baik-baik saja kan?”, kembali kau mengirimiku pesan singkat di akun whatsappku; membuyarkan ingatan masa laluku menjadi potongan-potongan yang akan selalu aku simpan.

Kau ternyata tak pernah benar-benar pergi.  Kau masih dan selalu akan memperhatikanku dengan caramu; memperhatikan diam-diam dan selalu bersedia mendengarkan selarut apapun aku menghubungimu.

Terima kasih, karena kau tak pernah benar-benar pergi.
Terima kasih untuk selalu ada dalam berbagai kondisi
Terima kasih untuk selalu ada saat aku berkali-kali patah; akan selalu ada kau yang akan menyemangatiku untuk tak cepat menyerah.
Terima kasih karena sudah menerima segala sisi dan sisaku
Dan terima kasih sudah mengizinkanku menjadikan kau tempat pulang kedua setelah dekapan Bunda.

Kau adalah tempat pulang yang disediakan tanpa rencana untukku oleh Tuhan..

Dari orang yang sering kau panggil bawel,
Chris_

NB : Surat ini didedikasikan untuk Ahmad Arifin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar