Selasa, 18 Agustus 2015

Aku Ingin Mencintaimu Secara Sempurna

Aku ingin mencintaimu secara sempurna,
Sesempurna pelukmu yang menjadikan resah dan prasangkaku tiada.

Aku ingin mencintaimu secara sempurna,
Sesempurna aksara-aksara yang kau pilin dan lantunkan menjadi doa-doa.

Dan aku ingin mencintaimu secara sempurna,
Sesempurna kepercayaanmu yang tanpa jeda tentang kita.

Rabu, 08 April 2015

Merayakan Setahun Tanpa Kamu, Fe

Setahun sudah, Fe, aku memilih pergi.  365 hari yang merutuki diri.

Kau pasti ingin tahu bagaimana keadaanku hari ini, bukan? Kau pasti ingin tahu bagaimana rupaku yang dulu pernah amat memujamu? Kau pasti bertanya-tanya, apakah aku melalui hidupku dengan baik? Atau apakah aku bisa menjatuhkan hatiku pada lelaki(lagi)?

Ah, aku baik-baik saja, Fe. Teramat baik malah. Aku bahagia. Hidupku jauh lebih tenang kini, sebab aku tak perlu lagi mencemaskan kau yang akan menghubungi mantan pacar yang kini menjadi kekasihmu(lagi) tanpa sepengetahuanku; perempuan yang dari bibirnya menyuruhmu untuk memanfaatkanku, dulu.
Kadang jika kupikir-pikir, betapa brengseknya kalian saat itu.

Sudah sembuhkah luka-ku? Belum.
Belum, Fe. Sesekali ada masa di mana pada malam-malam tertentu, aku menangisi aku; mengapa begitu lama mengambil keputusan untuk pergi dan berlalu.

Aku bukan perempuan yang mudah membagi isi kepalaku dengan orang lain, Fe.  Kau tahu itu. Maka ketika aku berbagi, aku juga sedang berbagi sisiku yang separuh sisa. Aku menelanjangi isi kepalaku di hadapanmu, Fe, bahkan tak ada tangis yang tak kau tahu saat itu. Aku menjadikanmu rumah saat kau ternyata hanya menganggapku tempat singgah.

Kau sahabatku, juga musuh terbesarku, Fe. Kau ingat bagaimana kita bertengkar? Kita saling mengeluarkan belati tajam dari mulut kita, saling menyakiti dengan perkataan sampah dan berlomba siapa yang akan duluan menurunkan egonya. Pernah suatu ketika, kau marah sekali padaku, dan memukulkan tanganmu ke kaca di belakangku hingga kaca tersebut pecah dan tanganmu mengeluarkan darah. Saat itu aku tak berkedip atau berteriak histeris. Aku justru tersenyum mengejek ke arahmu. Kau bilang, jika itu perempuan lain, dia pasti sudah kencing di celana melihat amarahmu. Atau di satu waktu lainnya, kita akan mendapati diri kita berada di sebuah tempat berlantai kayu. Musik tahun 90-an mengalun.  Aroma kopi berhamburan dimana-mana.  Aku tau kau tidak suka kopi, Fe.  Kau akan memesan Teh aroma mangga yang menurutku baunya seperti pengharum mobil. Sudut ruangan adalah tempat favorit kita menghabiskan waktu berjam-jam menertawai kebodohan yang kita lakukan.

Kita adalah dua kepala batu yang tak mau mengalah dan mengaku salah. Di matamu, aku adalah perempuan keras kepala yang selalu membantah apa yang kau katakan. Ah tapi bukankah itu salah satu alasan mengapa kau lebih suka berdiskusi denganku?

Segala tentangmu memang tak pernah benar-benar selesai, Fe.  Ada banyak kenangan dalam ingatan yang kau tinggalkan. Kecupan di kening serta pelukan terakhirmu di Bandara pukul 5 pagi tepat setahun lalu saja masih terekam jelas dalam kamar pikiran. Entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa itu adalah sebuah pelukan perpisahan. Fe.
Lain kali jika kau menemukan tempat singgah lainnya, jangan pernah meninggalkan sebuah kecupan di kening, karena akan meninggalkan ingatan yang bersarang di sana. Perempuan merekam lebih banyak kejadian dalam hidupnya, Fe.
Jangan pernah berniat untuk tinggal jika kemudian pada akhirnya kau tanggal.

Setahun sudah, Fe. 365 hari merutuki diri. Ternyata aku bisa setegar ini. Melanjutkan langkahku tanpa menoleh ke belakang lagi.
Mungkin suatu hari nanti kau akan membaca tulisan ini. Jangan GR dulu, Fe, tulisan ini ku bikin bukan karena aku sedang merindukan kamu. Tulisan ini ada sebagai penghargaan atas diriku sendiri. Ternyata memutuskan pergi darimu tak sesulit yang aku bayangkan. Aku masih bisa tertawa lebar, menikmati hidup, nongkrong bersama kawan-kawanku sekedar menikmati senja atau bahkan menikmati cangkir kopi hitamku. Aku bahkan flirting dengan pria lain. Hidupku bahagia, Fe. Jadi kau tak perlu cemas bahwa aku akan bunuh diri, mengunci diri di kamar atau yang lainnya, sebab aku tak se-drama kamu, Fe.

Jadi, terima kasih atas waktu tiga tahun kita yang sudah lalu. Jika kau pikir, aku masih bisa kau rayu dan mau berbaikan denganmu seperti dulu, itu hanya mimpimu. Kau ternyata tak benar-benar mengenal aku.

Sincerely,
Mantanmu yang mempesona

Selasa, 03 Februari 2015

Selalu Ada Kamu



Dulu, aku sering mendengar orang-orang di sekitarku berkata, “Jatuh cintalah di Yogyakarta sekali saja dalam hidupmu yang singkat itu.” Sontak aku menyunggingkan senyum mendengar riuh balasan yang hadir di telingaku menanggapi perkataan tersebut. “Ah, ada-ada saja. Mengapa harus sejauh itu pula jika mau jatuh cinta”, pikirku saat itu.


“Hae.. hae.. apa kabar kamu?”, sapamu di akun Whatsappku siang itu.
“Hae juga. Aku baik. Kamu baik? Kamu pasti sedang merindukanku saat ini?” jawabku sekenanya sambil membayangkan ekspresi wajahmu saat membacanya. Hahahah.

Kau tahu, ingatanku kembali berpacu dengan waktu yang sudah lalu. 2009. Enam tahun yang lalu, saat pertama kalinya aku mengenalmu, di Yogyakarta.  Kau dengan rambut keriting gimbalmu dan kaos oblong; ciri khasmu, ujarmu. 


Tahun berbilang dan sampailah di mana aku ternyata memutuskan untuk menitipkan sebagian harapan-harapanku di bahumu yang sudah cukup banyak memikul beban kehidupan sebenarnya. Seperti itulah, aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada hal-hal yang selalu kau gumamkan di telingaku untuk sekedar menghilangkan tangisku, pun dengan caramu menghadapi kepalaku yang batu.

Lalu kita berikrar untuk saling menjaga.

Aku tau, aku adalah wanita pencemas dan sabarku tidaklah panjang. Ada saja yang salah dimataku mengenai kebiasaanmu; Tentang kau yang lebih sering acuh dan jarang memberi kabar atapun aku yang kelewat cemburu dengan perempuan-perempuan yang pernah hadir untuk kau dekap. Kita berjarak ribuan depa saat itu, Tuan. Tidakkah kau paham?

Ah, "Kita" tak sekuat yang aku dan kau pikirkan. Aku memilih untuk melepaskan dan kau memilih untuk mengiyakan. Kita kembali menjadi dua orang asing yang memilih jalannya sendiri-sendiri.


“Hae.. Semuanya aman kan? Kau baik-baik saja kan?”, kembali kau mengirimiku pesan singkat di akun whatsappku; membuyarkan ingatan masa laluku menjadi potongan-potongan yang akan selalu aku simpan.

Kau ternyata tak pernah benar-benar pergi.  Kau masih dan selalu akan memperhatikanku dengan caramu; memperhatikan diam-diam dan selalu bersedia mendengarkan selarut apapun aku menghubungimu.

Terima kasih, karena kau tak pernah benar-benar pergi.
Terima kasih untuk selalu ada dalam berbagai kondisi
Terima kasih untuk selalu ada saat aku berkali-kali patah; akan selalu ada kau yang akan menyemangatiku untuk tak cepat menyerah.
Terima kasih karena sudah menerima segala sisi dan sisaku
Dan terima kasih sudah mengizinkanku menjadikan kau tempat pulang kedua setelah dekapan Bunda.

Kau adalah tempat pulang yang disediakan tanpa rencana untukku oleh Tuhan..

Dari orang yang sering kau panggil bawel,
Chris_

NB : Surat ini didedikasikan untuk Ahmad Arifin

Minggu, 01 Februari 2015

Kepada Wanita yang Pernah Kusinggahi Rahimnya



Padang, Februari yang lembab..

Kepada wanita yang pernah ku singgahi rahimnya,
aku memanggilmu, Bunda.
Tahukah engkau, di setiap panca indra yang aku punya, namamu menjelma mantra penghilang sedu sedan kala dunia menertawaiku tanpa jeda; menegakkan kepalaku yang kerap hampir terkulai di sudut kota paling barat Sumatera.

Bagaimana kabarmu di sana, Bunda?
Jarak dan tahun membuat jeda yang panjang di antara dua mata kita untuk saling menyapa. Aku di kotaku dan engkau di kotamu; dengan 1665km tentunya.
Sudah tujuh tahun ternyata, Bunda, aku begitu keras kepala. Meninggalkanmu di Ibu Kota dengan lelaki yang ku sebut ayah; lelaki yang juga membuat lebam di dadamu tampak begitu nyata diusiamu yang semakin senja.

Aku, si gadis kecilmu ini, terlalu naif untuk menerima kenyataan, bahwa lelaki yang kau nikahi 30 tahun lalu itu, memiliki perempuan lain selain engkau di sisinya, Bunda.  Usiaku baru 13 Tahun saat itu, Bunda, saat acap kali hujan turun dari kedua matamu. Bukan rerintik; melainkan hujan deras, Bunda. Saat itu aku tau bahwa kehilanganmu begitu nyata.

Mulutmu selalu berucap untuk berpisah dengannya, Bunda, tapi aku tau kalau hatimu tidak. Kau masih merapal doa dalam setiap sujudmu untuknya, berharap dia akan memanusiakanmu, mencintaimu tanpa alpa. Ah, kau begitu mencintainya, Bunda.
Lalu di sinilah aku, di baratnya Sumatera, menulis surat untukmu, Bunda, dengan rindu yang kian membuncah di dada.

Maafkan aku yang memilih pergi jauh saat kau membutuhkan telingaku untuk mendengarkan segala keluh dan sedihmu. Saat  kepalamu lelah untuk selalu tegak, harusnya ada bahuku di sana yang akan kau jadikan sandaran, seperti tanganmu yang akan selalu mendekapku hangat saat aku pulang.
Kepada wanita yang pernah ku singgahi rahimnya,
Aku akan kembali. Aku akan pulang ke dadamu yang lapang. Memeluk tubuhmu hingga usia memelukku nanti. Sedikit bersabarlah sebentar lagi, Bunda, sebab setelah ini, tak akan ada lagi hujan dari kelopak matamu.


Salam rindu dari anakmu,
Chris_

Jumat, 30 Januari 2015

Dear, Fe..

Fe.
Aku tau banyak pertengkaran-pertengkaran kecil hadir di hari-hari kita.
egoisku hiasi nalarmu.. angkuhku semaikan akal sehatmu.
Maaf Fe..
Jika masih saja luka yang aku uraikan di atas asa dinginmu.
aku asik bercengkrama dengan liukan jingga yang semu, lompat kesana kemari, tak hiraukan tatapan nanarmu..
Fe..
Biar ku untai kembali benang kusut hatimu,
menjadi simpul yang sederhana untuk kau lihat.
Ajari aku menjadi pribadi yang lebih arif melihat masalah sebagai teman, agar aku bisa membuatmu nyaman bersandar di hatiku.
Fe..
Ini tanganku.. genggamlah.. karena aku tak akan membiarkan tanganmu menguap di udara