Dulu, aku sering mendengar orang-orang
di sekitarku berkata, “Jatuh cintalah di Yogyakarta sekali saja dalam hidupmu
yang singkat itu.” Sontak aku menyunggingkan senyum mendengar riuh balasan yang
hadir di telingaku menanggapi perkataan tersebut. “Ah, ada-ada saja. Mengapa
harus sejauh itu pula jika mau jatuh cinta”, pikirku saat itu.
“Hae.. hae.. apa kabar kamu?”, sapamu di akun Whatsappku
siang itu.
“Hae juga. Aku baik. Kamu baik? Kamu pasti sedang
merindukanku saat ini?” jawabku sekenanya sambil membayangkan ekspresi wajahmu
saat membacanya. Hahahah.
Kau tahu, ingatanku kembali berpacu dengan waktu yang sudah lalu. 2009.
Enam tahun yang lalu, saat pertama kalinya aku mengenalmu, di Yogyakarta. Kau dengan rambut keriting gimbalmu dan kaos
oblong; ciri khasmu, ujarmu.
Tahun
berbilang dan sampailah di mana aku ternyata memutuskan untuk menitipkan
sebagian harapan-harapanku di bahumu yang sudah cukup banyak memikul beban
kehidupan sebenarnya. Seperti itulah, aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada
hal-hal yang selalu kau gumamkan di telingaku untuk sekedar menghilangkan
tangisku, pun dengan caramu menghadapi kepalaku yang batu.
Lalu kita
berikrar untuk saling menjaga.
Aku tau, aku
adalah wanita pencemas dan sabarku tidaklah panjang. Ada saja yang salah
dimataku mengenai kebiasaanmu; Tentang kau yang lebih sering acuh dan jarang
memberi kabar atapun aku yang kelewat cemburu dengan perempuan-perempuan yang
pernah hadir untuk kau dekap. Kita berjarak ribuan depa saat itu, Tuan.
Tidakkah kau paham?
Ah, "Kita" tak sekuat yang aku dan kau pikirkan.
Aku memilih untuk melepaskan dan kau memilih untuk mengiyakan. Kita kembali
menjadi dua orang asing yang memilih jalannya sendiri-sendiri.
“Hae..
Semuanya aman kan? Kau baik-baik saja kan?”, kembali kau mengirimiku pesan
singkat di akun whatsappku; membuyarkan ingatan masa laluku menjadi
potongan-potongan yang akan selalu aku simpan.
Kau ternyata
tak pernah benar-benar pergi. Kau masih
dan selalu akan memperhatikanku dengan caramu; memperhatikan diam-diam dan
selalu bersedia mendengarkan selarut apapun aku menghubungimu.
Terima
kasih, karena kau tak pernah benar-benar pergi.
Terima kasih
untuk selalu ada dalam berbagai kondisi
Terima kasih
untuk selalu ada saat aku berkali-kali patah; akan selalu ada kau yang akan
menyemangatiku untuk tak cepat menyerah.
Terima kasih
karena sudah menerima segala sisi dan sisaku
Dan terima
kasih sudah mengizinkanku menjadikan kau tempat pulang kedua setelah dekapan
Bunda.
Kau adalah
tempat pulang yang disediakan tanpa rencana untukku oleh Tuhan..
Dari orang yang sering kau panggil bawel,
Chris_
NB : Surat ini didedikasikan untuk Ahmad Arifin